WP #28 Tadika Mesra
Yang tersisa dari kami anak-anak Tadika…
~~~
Kita adalah sempurna yang telah purna dan apa yang tersisa hanya membuatku tersiksa. (@kujagabulanbersinaruntukmu )
—
Aku adalah senja yang telah tenggelam dan apa yang tersisa hanya membuatmu terluka. (@rosdarodhiyana )
—
Kini, bagiku kau hanyalah sebuah kenangan; sisa-sisa ingatanku yang telah menemukan muara keikhlasan. (@kkiakia )
—
Kau serupa hujan sore yang setelahnya membawa hawa dingin. Kau turunkan air basah tumpah ketanah dengan curah yang tinggi dan kilat petir angkuh tanpa melihat ada diriku dibawahnya sedang bersembunyi dibalik batu bata merah. Setelah itu yang tersisa hanya bau tanah basah yang aromanya seperti memutar satu episode kebersamaan kita di masa lalu. Kau lalu pergi meninggalkan dingin dan genangan keruh tanpa kau pedulikan aku telah basah dan menggigil lalu rapuh. (@rasyiddinalhafidz )
—
Adakalanya yang pedih bukanlah luka, melainkan yang tersisa darimu tinggalah kenangan saja. (@meremahrindu )
—
Gimana? Barang-barangnya perlu aku kembalikan lagi, ndak?
Tagihan makan sama nonton, perlu aku kembalikan juga, ndak?
Aku nggak mau setelah perbincangan ini selesai, masih ada sisa-sisa yg belum saja usai.
- Harta, tahta, nida (maksa)
—
Aku memunguti serpihan serpihan kenangan yang tidak sengaja kau tinggalkan, lalu menyimpannya dalam setoples bernama ruang ingatan. Kemudian merawatnya dengan tangis dan tawa yang datang bersamaan. Sebab setelah usai, kenangan adalah satu-satunya yang tersisa yang dapat kupertahankan. (@manifestasi-rasa )
—
Kau tahu apa yang tersisa dari kita?
Adalah kita yang tak lebih dari seonggok sampah yang jika dikumpulkan tak bernilai sama sekali. Rasanya begitu tidak adil. Aku dan kamu telah berjuang, tapi mengapa kau yang lebih dulu jatuh cinta dan aku menjadi pihak yang harus terbuang? Kenapa kau dengan mudahnya melangkah dariku, sedangkan aku begitu setengah mati mati-matian mencoba melepaskanmu?! (@manipulasirasa )
—
Tiada caci maupun benci, yang tersisa hanyalah terimakasih karena telah sudi jadi bagian perjalanan hidup ini. (@zulzone )
—
Membuang sisa kenangan di kepala tak semudah membuang lembaran foto yang kita punya. (@rajuami )
—
Adalah engkau yang menempatkan rindu begitu tipis antara hinggap dan lenyap.
Dan aku yang masih terpaku kaku di ujung antara memilih melupa atau merawat luka. (@hafidhulhaqq )
—
Mengapa kau menjarak dengan membawa rindu yang begitu mahsyur, tuan?
Menjadikan yang tersisa dalam hatiku, hanyalah degup paling anggun dari lantun doa-doa yang berhasil meniadakan persoalan kita; yang lebih dekat pada kemustahilan. (@sfwhkml9 )
—
Bait demi bait yang kau tuliskan selalu membuatku berdecak kagum, siapakah gerangan yang kau tuliskan? Di mana keberadaannya?
Tapi, inilah aku; si puan yang tidak miliki keberanian, hingga menjadikan sebuah pertanyaan besar yang ku biarkan mengendap, selalu.
Apakah sosok itu ialah aku? Sebenarnya, seperti apa perasaanmu kepadaku?
Demikianlah, sisa pecahan rumpang yang berharap ‘kan menjadi rampung (@langitawan )
—
Sahabatku, Yafet…
Apa kabarmu disana yang tak kutahu dimana rimbamu hingga hari ini. Ini adalah surat kali kedua dariku, setelah surat pertama yang hingga kini ku tak tahu kemana harus mengeposkannya. Surat atas jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada dialog singkat kita soalan ekonomi politik yang nihil di negeri ini. Soalan pemikiran beberapa filsuf tentang eksistensi dan kesadaran di tengah masyarakat.
Ahh, betapa bodohnya aku Yafet, baru kusadari bahwa Oma mu adalah seorang pembina sebuah yayasan yang mengayomi para sahabat kita yang berkebutuhan khusus. Kenapa tak terpikirkan olehku untuk mencari tahu keberadaanmu lewat yayasan itu. Bagaimana kabar Oma? Apakah masih tegas, disiplin, dan setangguh dulu? Semoga beliau selalu dalam lindungan Tuhan.
Yafet, ada sebuah pertanyaan yang muncul dari beberapa sahabatku. Engkau tentunya tahu, sudah pasti ingin ku bagi denganmu. Aku selalu terkesan pada jauhnya langlang buana pikiranmu, tajamnya analisamu. Pikiran seorang yang mengidap disleksia. Aku yakin, engkaupun akan sangat tertarik mendiskusikan dan turut memikirkan sepenggal pertanyaan itu.
“Yang tersisa…”, Yafet.
Apa yang tersisa dari segala sesuatu yang ada di muka bumi ini?
Yang tersisa dari congaknya sebuah ambisi.
Yang tersisa dari kepasrahan yang hakiki.
Yang tersisa dari melimpah ruahnya harta.
Yang tersisa dari kemiskinan.
Yang tersisa dari tingginya sebuah jabatan.
Yang tersisa dari paras cantik dan tampan rupawan.
Yang tersisa dari tingginya pendidikan.
Yang tersisa dari luasnya pengetahuan, dalamnya pemikiran.
Yang tersisa dari kemandulan intelektual.
Yang tersisa dari keserakahan nun pongah.
Yang tersisa dari kealiman seorang ulama.
Yang tersisa dari kelenaan atas anugerah.
Yang tersisa dari kebodohan.
Yang tersisa dari kedunguan.
Yang tersisa dari kemunafikan….
Apa Yafet…..
Apa yang tersisa dari kepolosan?
Dari keluguan?
Apa yang tersisa dari kesederhanaan?
Apa yang tersisa dari kesabaran yang digerogoti godaan terus-terusan?
Apa yang tersisa dari kemanusiaan?
Apa yang tersisa dari nurani di zaman ini?
Apa yang tersisa dari iman yang kian terkikis?
Apa yang tersisa…
Apa yang tersisa dari kata-kata?
Lalu, apakah semua yang tersisa adalah kesia-siaan belaka…
Yafet, Ibrahim telah pergi dan takkan kembali.
Ismail yang dulu tiada lagi.
Ismail-Ismail yang ada telah menjadi berhala.
Yafet, kurasa aku cukupkan saja.
Biarlah semua yang tersisa menjadi tanda tanya.
Mungkin dari sekian yang masih membaca, tak dinyana ikut pula bertanya-tanya.
Dan semoga pula menemukan jawaban pada masing-masing kesadaran yang terdalam dirinya.
Salam hangatku untukmu, sahabat disleksiaku…
Dariku, di tanah urang Banua…(@barakelana )
~~~
Dari kami yang tidak pandai merasa peka..
Untukmu yang mencari sisa-sisa, tapi jangan jadikan kami pilihan yang tersisa :“)
Ruang Seni Hati Tadika Mesra, 28 Oktober 2020
Ada orang tiada anak.
Tapi dia bahagia.
Ada orang hidupnya tidak banyak duit.
Tapi dia bahagia.
Ada orang isterinya tidak cantik.
Tapi dia bahagia.
Ada orang suami nya tidak kacak.
Tapi dia bahagia.
Ada orang belum bertemu jodohnya.
Tapi dia bahagia.
Ada orang lahir-lahir memang sudah tiada ibu dan ayah, tapi hidupnya bahagia.
Berbahagia lah dengan cara kita.
Syukur tanda bahagia.❤️
ALHAMDULILLAH.
langitawan-deactivated20210701:
238.
Tuan, nestapa apa yang tengah kau sembunyikan dari dunia? Sakit dan luka yang bagaimana tengah bersemayam di benakmu?
Boleh perkenalkan kepadaku?
Aku tak janji mampu menyembuhkannya atau berlagak bisa menjadi obat penawarnya.
Tidak, memang tak ada apapun yang bisa ku janjikan kepadamu, bahkan ragaku sendiri hanyalah pinjaman Tuhan yang jika sudah waktunya harus aku kembalikan.
Tapi, inilah diriku, seapa-adanya diriku.
Ku kenalkan diriku kepadamu dengan segudang kisah pahit yang coba aku tenggelamkan.
Melihatmu hari ini seperti melihat diriku di masa silam. Saat di mana malam terasa begitu panjang dan siang begitu cepat meninggalkan.
Tuan, inilah diriku, seutuhnya.
Aku tahu rasanya seperti apa, sebabnya aku tak ingin kau rasakan perasaan yang sama seperti yang dulu pernah aku rasa.
Karena kau butuh teman, semuanya tak boleh kau tampung sendirian. Maka, mari berbagi, apapun itu.
Sekalipun aku tidak paham, sekalipun aku bungkam tanpa respon apa-apa, sekalipun itu teka-teki yang sulit untuk ku temukan jawabannya.
Tuan, ini bukanlah sebuah tawaran apalagi perjanjian. Melainkan hanyalah bentuk ketulusan yang lahir dari lubuk hati terdalam, mudah-mudahan berkenan.
Tuan, inilah aku; Puan yang tak berdaya karena ditikam takdir semesta.
Ruang cerita, 20.13 | 12 September 2020.
(Source: langitawan)
pulangan do’a yang dia tuturkan di hadapan Tuhan terkhusus untukmu sebagai balasan atas segala luhurnya budimu terhadapnya adalah sesuatu yang sangat bernilai.
siapa tahu, mungkin seungkap do’anya untukmu menjadi asbab kau masuk syurga.
siapa tahu??
__
selamat menebar cinta, sayang.
Cerpen: Secangkir Tehmu
“Apa karena tehnya bikinanmu ya mas, makanya enak bangeeeeetttttt?”
“Ah masa?” Dia bertanya balik sembari mengambil ekspresi sok cool, tapi aku masih lihat senyum tersungging sedikit di ujung bibirnya.
“Haha iya loh, teh buatanmu selalu enak. Manisnya pas.”
“Itulah kenapa aku nggak mau dibikinkan teh.”
“Karena buatanku nggak enak?”
Kami tertawa.
“Bukan, bukan. Ya karena buatanku enak.” Jawabnya kemudian.
“Shombooonkkkkkk! Hahaha.” Aku menyeru, taklupa kutepuk lengannya.
“Fakta kan?” Tanyanya memvalidasi.
“Ingat nggak, waktu itu kita lagi diskusi terkait resepsi, di meja makan rumahku…Mas bikin teh pakai teh putih. Serius itu teh terenak yang pernah aku seruput! Aku mau dong teh itu lagi…”
“Oh ya?”
“Iya, selepas Mas pulang, aku coba bikin sendiri. Huekkkkkk, rasanya jauh dari ingatanku.”
“Hahaha masa sih..”
“Iya! Apa karena kamu yang bikin ya mas?”
“Iya kayanya, kamu nggak tahu aku pake pelet di tehnya?”
“Hah? Masa?”
“Ya enggaklah! Gila aja! Hahaha.”
“Yaudah, mulai sekarang Mas aja yang bikin teh ya. Sekaligus bikinkan teh buat aku.”
“Jadi itu alasanmu memujiku? Biar nggak perlu bikinkan teh sekaligus dibikinkan?”
“Hahaha, exactly!” Kataku penuh kemenangan.
“Dasar kamu, untung sayang.”
“Jangan panas-panas ya Mas, aku suka yang siap minum nggak perlu niup~” lagakku sambil mengedipkan mata.
“Cerewet!”
Begitulah. Aku tersihir teh buatan suamiku, dan suamiku tersihir pujianku, berakhir dengan…aku yang sekian tahun pernikahan jarang membuatkan dia teh karena dia yang selalu bilang duluan,
“Tehnya ada di situ ya, dek.”
Bagiku teh buatannya adalah sebuah kata ganti dari aku menyayangimu. Dan aku yang selalu antusias menyeruputnya sedang berujar, aku juga begitu.
Kitab fiqih
Mutun (disusun menurut tahapan mempelajarinya dari awal hingga lanjutan) :
1. “Ar-Risalah Al-Jami’ah”, karya As-Sayyid Ahmad bin Zain Al-Habsyi.
2. “Safinah An-Najah”, karya Syaikh Salim bin Sumair Al-Hadhrami.
3. 2 kitab Mukhtashar ; “Al-Mukhtashar Al-Kabir (Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah atau Masa’il At-Ta’lim)” dan “Al-Mukhtashar Ash-Shaghir”, keduanya karya Al-‘Allamah ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Bafadhal.
4. “Al-Yaqut An-Nafis”, karya Al-‘Allamah Sayyid Ahmad bin ‘Umar Asy-Syathiri.
5. “Al-Ghayah wa At-Taqrib (Matan Abi Syuja’)”, karya Al-‘Allamah Al-Qadhi Abi Syuja’ Ahmad bin Al-Husain Al-Ashfahani.
6. “Shafwah Az-Zubad”, karya Al-‘Allamah Syihabuddin Abul ‘Abbas Ahmad bin Husain bin Ruslan.
7. “‘Umdah As-Salik”, karya Imam Ibnu An-Naqib.
8. “At-Tanbih” dan “Al-Muhadzdzab fi Fiqh Al-Imam Asy-Syafi’i”, keduanya karya Imam Abu Ishaq Asy-Syirazi.
9. “Minhaj Ath-Thalibin” dan “Raudhah Ath-Thalibin”, keduanya karya Imam Muhyiddin Yahya bin Syarf An-Nawawi.
10. “Irsyad Al-Ghawi ila Masalik Al-Hawi”, karya Al-‘Allamah Isma’il bin Abi Bakr Ibnul Muqri’.
Syuruh (kitab-kitab syarah atau penjelasan panjang) :
1. “Nailur Raja bi Syarhi Safinah An-Najah”, karya Sayyid Ahmad bin ‘Umar Asy-Syathiri.
2. “Busyra Al-Karim bi Syarh Masa’il At-Ta’lim”, karya Syaikh Al-‘Allamah Sa’id bin Muhammad Ba’isyan, kitab ini adalah syarah Masa’il At-Ta’lim atau Mukhtashar Al-Kabir.
3. “Fathul Qarib Al-Mujib”, karya Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazi, kitab ini adalah syarah Matan Abi Syuja’.
4. “Al-Iqna’ fi Halli Alfazh Abi Syuja'”, karya Al-Khathib Asy-Syirbini, juga syarah Matan Abi Syuja’.
5. “Fathul ‘Allam bi Syarh Mursyid Al-Anam”, karya Sayyid Muhammad bin ‘Abdillah Al-Jurdani, kitab ini adalah syarah beliau atas kitabnya sendiri, Mursyid Al-Anam.
6. “Fathul Wahhab”, karya Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari, kitab ini adalah syarah beliau atas kitabnya sendiri, Manhaj Ath-Thullab.
7. Kitab-kitab syarah Minhajut Thalibin :
– “Kanzur Raghibin”, karya Imam Jalaluddin Al-Mahalli.
– “Mughni Al-Muhtaj”, karya Imam Al-Khathib Asy-Syirbini.
– “NIhayah Al-Muhtaj”, karya Imam Syamsuddin Ar-Ramli.
– “Tuhfah Al-Muhtaj”, karya Imam Ibnu Hajar Al-Haitami.
Hawasyi (kitab-kitab hasyiyah atau catatan pinggir, atau penjelasan ringkas) :
1. “I’anatuth Thalibin ‘ala Halli Alfazh Fath Al-Mu’in”, karya Al-‘Allamah ‘Utsman bin Muhammad Syatha Al-Bakri Ad-Dimyathi.
2. “Hasyiyah Asy-Syaikh Al-Bajuri ‘ala Syarh Ibn Qasim li Matni Abi Syuja'”, karya Al-‘Allamah Ibrahim bin Muhammad Al-Bajuri.
3. “Hasyiyah Asy-Syarqawi ‘ala Tuhfah Ath-Thullab bi Syarh Tahrir Tanqih Al-Lubab”, karya Syaikh ‘Abdullah bin Hijazi Asy-Syarqawi.
4. “Al-Hawasyi Al-Madinah ‘ala Syarh Ibn Hajar Al-Haitami ‘ala Mukhtashar Al-Faqih ‘Abdullah Bafadhal Al-Hadhrami”, karya Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi.
5. “Mauhibah Dzil Fadhl ‘ala Hasyiyah Syarh Ibn Hajar ‘ala Muqaddimah Bafadhal”, karya Syaikh Al-Faqih Muhammad Mahfuzh bin ‘Abdillah At-Tarmasi.
6. “Hasyiyah Al-Bujairami” atau “Tuhfah Al-Habib ‘ala Syarh Al-Khathib”, karya Al-‘Allamah Sulaiman bin Muhammad bin ‘Umar Al-Bujairami Al-Mishri.
7. 2 kitab Hasyiyah ; “Hasyiyah Al-Jamal (Futuhat Al-Wahhab)” karya Syaikh Sulaiman Al-Jamal, dan “At-Tajrid li Naf’il ‘Abid” karya Al-‘Allamah Al-Bujairami. Keduanya adalah hasyiyah atas syarah Manhaj Ath-Thullab.
8. Kitab-kitab Hasyiyah atas kitab-kitab syarah Al-Minhaj :
– “Hasyiyah Asy-Syarwani wa Ibnu Qasim Al-‘Abbadi ‘ala At-Tuhfah”.
– “Hasyiyah Al-Qalyubi wa ‘Umairah ‘ala Syarh Al-Mahalli”.
– “Hasyiyah Asy-Syibramalisi wa Ar-Rasyidi ‘ala An-Nihayah li Ar-Ramli.”
Kitab-kitab Fatwa :
1. Fatawa Sulthan Al-‘Ulama’ Al-‘Izz bin ‘Abdissalam.
2. Fatawa As-Subki.
3. Al-Hawi lil Fatawi, Imam Jalaluddin Abu Bakr As-Suyuthi.
4. Al-Fatawa Al-Kubra, Imam Ibnu Hajar Al-Haitami.
5. Fatawa Bamakhramah, Syaikh ‘Umar bin ‘Abdillah Bamakhramah.
6. Bughyah Al-Mustarsyidin, As-Sayyid Al-‘Allamah ‘Abdurrahman Al-Masyhur.
Saya tambahkan :
7. Fatawa An-Nawawi, yang dikumpulkan oleh murid kesayangan Imam An-Nawawi, yaitu ‘Alauddin Ibnul ‘Aththar.
Kitab-kitab Takhrij Hadits atas Kitab-kitab Fiqh Madzhab Syafi’i :
1. “At-Talkhish Al-Habir fi Takhrij Ahadits Ar-Rafi’i Al-Kabir”, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani.
2. “Al-Badr Al-Munir fi Takhrij Al-Ahadits wa Al-Atsar Al-Waqi’ah fi Asy-Syarh Al-Kabir” dan “Tuhfah Al-Muhtaj ila Adillah Al-Minhaj”, keduanya karya Imam Abu Hafsh Ibnul Mulaqqin.
Kitab-kitab fiqih yang didukung dengan dalil-dalil, diikuti dengan pembahasan perbandingan dalil madzhab lain :
1. “Nihayah Al-Mathlab fi Dirayah Al-Madzhab”, karya Imam Al-Haramain Al-Juwaini.
2. “Al-Hawi Al-Kabir”, karya Imam Abul Hasan Al-Mawardi.
3. “Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab”, karya Imam Muhyiddin Yahya bin Syarf An-Nawawi. Kitab ini sekaligus syarah An-Nawawi terhadap Al-Muhadzdzab karya Abu Ishaq Asy-Syirazi.
4. “Fathul ‘Aziz Syarh Al-Wajiz”, karya Imam Abul Qasim ‘Abdul Karim Ar-Rafi’i.
5. “Al-Ibtihaj fi Syarh Al-Minhaj”, karya Imam Taqiyuddin As-Subki.
Kitab-kitab yang menjelaskan mufradat (yang terasa asing) yang dipakai para ahli fiqh madzhab Syafi’i dalam ‘ibarat mereka :
1. “Al-Mishbah Al-Munir”, karya Imam Abul ‘Abbas Ahmad bin Muhammad bin ‘Ali Al-Fayyumi.
2. “Tahrir Alfazh At-Tanbih” dan “Daqa’iq Al-Minhaj”, keduanya karya Imam An-Nawawi.
3. “An-Nazhm Al-Musta’dzab fi Syarh Gharib Al-Muhadzdzab”, karya Imam Ibnu Baththal Ar-Rukabi.
Kitab-kitab Tarajim para ahli fiqh madzhab Syafi’i :
1. “Thabaqatul Fuqaha’ Asy-Syafi’iyyah”, karya Al-Qadhi Abu ‘Ashim Muhammad bin Ahmad Al-‘Abbadi.
2. “Thabaqatus Syafi’iyyah Al-Kubra”, karya Imam Tajuddin As-Subki.
3. “Thabaqatus Syafi’iyyah”, karya Imam Jamaluddin Abu Muhammad Al-Isnawi.
4. “Thabaqatus Syafi’iyyah”, karya Ibnu Qadhi Syuhbah.
5. “At-Tuhfah Al-Bahiyyah fi Thabaqat Asy-Syafi’iyyah (manuskrip)”, karya Syaikh Asy-Syarqawi.
langitawan-deactivated20210701:
Hujan
Malam, eh, aku ragu ini sudah malam apa belum?
Di sini (saat aku menuliskan ini tadi) adzan magrib sedang berkumandang. Kau sedang apa? Sudah pulang, kan? atau masih di kantor bergulat di depan layar dengan radiasinya karena lembur? Ku rasa tidak, sebab ini masih pertengahan bulan, aku paham betul, jam lembur mu lebih banyak terjadi menjelang akhir bulan.
Bagaimana, kabar baik apa yang ingin kau sampaikan padaku malam ini? Mumpung angin malam sedang meniup lembut rambutku kau bisa sekalian menitipkan ceritamu melaluinya. Dan tenang saja, aku pasti bisa merasakannya.
Ah iya, aku lupa. Kotaku sudah sering diguyur hujan, kau tidak basah kuyup setiap hari di sana, kan? Aku ingat, kau seringkali bandel jika ku ingatkan untuk membawah mantel hujan, ribet katamu, padahal tinggal masukan saja ke bawah jok motormu.
Semoga, hujan tak sampai hati untuk mengguyur tubuhmu yang lemah sekali terhadap airnya. Ku harap hujan bisa sedikit menunda keinginannya untuk turun ke bumi jika dirimu masih berada di jalanan, setidaknya aku memastikan dirimu sudah berada di dalam ruangan.
Baiklah, hati-hati membawah kendaraan di jalan raya, ya. Jangan kebut-kebut, jalanan sedang licin, lubang bahkan tidak terlihat karena genangan airnya jika di musim penghujan begini.
Hujan baru reda, 21.40 | 13 Desember 2019.
(Source: langitawan)
Ilmi
*Hari Raya Ilmu.
“Kertas ini hanya bukti bahwa kalian telah hadir di majlis kitab ini. Nanti ketika kita telah menyelesaikan 25-30 kitab penting, yang tidak pernah absen lebih dari dua kali dalam setiap kitab, akan saya uji. Kertas inilah syarat untuk ikut ujian.”
Ujiannya tentu saja bukan dengan tulis, apalagi pilihan ganda. Ujian tulis tidak akan menjadikan seorang ulama. Saya akan uji langsung, wawancara. Dari caramu menjawab saya akan tahu, apakah kamu sudah terpengaruh dengan manhaj yang diwariskan para ulama ini, apakah kamu sudah bisa menerapkannya. Ujungnya, tidak mesti kesimpulanmu sama seperti kesimpulanku, tapi yang penting cara berfikirnya sama, manhajnya sama, cara mengeluarkan makna dari sebuah teks sama.“
-Yaa Rabb… Mata ini berkaca-kaca, hati ini terasa sedang diaduk. akan sampai kah aku ke sana? Aku mohon Taufiq dan Hidayahmu ya Rabb.-
"Aku belum melihat di antara kalian seperti semangatku dulu menuntut ilmu, haus akan pengetahuan. Gunakanlah 12 jam dalam sehari untuk belajar, maulana, lalu sisanya 6 jam untuk tidur, 6 jam lainnya untuk keperluan harianmu, makan, hiburan,olahraga, nyuci dll.”
Padahal yang beliau ceritakan ini adalah semangat beliau yang level rendah, itupun belum ada dari kita yang sampai ke sana. Menurut cerita murid-murid awal beliau, beliau pernah meninggalkan tempat tidur beberapa hari untuk belajar, tidur kalau hanya kantuk mengalahkan, di ruang belajar, lagi membaca lalu tertidur, tak sengaja.
Ketika menemukan permasalahan rumit, beliau pernah selama tiga bulan tidak keluar rumah, kecuali hanya untuk shalat jum'at, berjibaku dengan tumpukan buku-buku. Pernah juga karena saking nikmatnya belajar, beliau lupa makan, dan pingsan ketika hendak ke kamar mandi.
Jadi ketika beliau bilang; “belajarlah 12 jam dalam sehari”. Itu adalah level yang rendah bagi beliau.
-Akan sampai kah aku ke sana? Yaa Rabb… Aku Mohon pertolonganmu.-
“Jalan yang ditempuh penuntut ilmu adalah jalan kehilangan, maulana, kalian harus rela melepaskan segala hal, kecuali jalan ilmu. Ketika kawan-kawan sebayamu asyik bermain, kalian harus sibuk dengan ilmu, ketika kawan-kawanmu nyenyak tidur, kalian harus begadang membaca buku. Kamu harus memberikan seluruhmu untuk ilmu. Bersakit-sakit 10-20 tahun dalam ilmu akan terbayar dengan hidup tenang di akhir hayat. Hidup dalam kebodohan adalah neraka yang sangat pedih.”
“Ilmu ini semua satu kesatuan, maulana, ketika kalian belajar nahwu, kalian juga harus belajar mantiq, ketika belajar balaghah kalian harus sudah belajar nahwu dan mantiq, ketika belajar aqidah, kalian harus selesai belajar nahwu, balaghah, mantiq, maqulat-muqaddimah falsafah. Ketika belajar ushul fikih kalian harus selesai belajar; nahwu, sharf, balaghah, mantiq, wadha’, maqulat, aqidah, mustalah hadis, mawaris, dll. Begitu seterusnya. Maka perlu keseriusan maulana. Berat. Perjalanan panjang. Tapi mudah ataupun berat kita akan menjalaninya bersama.”
“Jalan ilmu adalah jalan terbaik untuk membela negara. Mencintai tanah air. Karena ummat ini, hanya akan maju dengan ilmu.” Aparat negara-polisi, mungkin bisa menenangkan negara dengan menangkap teroris -ketika dia sudah jadi teroris-, memenjarakan kriminal -ketika dia sudah melakukan kejahatan, tapi seorang ulama mengamankan negara dengan menjadikan orang tidak menjadi teroris, dengan menjadikan (calon) preman, kriminal menjadi orang shalih. Para ulama mencegah keburukan sebelum keburukan itu terjadi. Sedang polisi mencegah keburukan, setelah keburukan itu terjadi.“
Bersambung…
-Gurunda Syaikh Al-Allamah Saifuddin Husam Ramadhan. Semoga Allah selalu menjaga beliau. Sehat badan. Lancar segala urusan. Dan dipermudah mengajarkan ilmunya kepada Kami
💚
*Maulana adalah panggilan beliau untuk murid-muridnya. Sering jg menggunakan Sidna.
Kamu lelah? Sama, akupun merasakannya.
Terkadang ingin mengeluh, terkadang ingin berhenti namun sejenak aku menoleh ke belakang, ternyata langkahku sudah sangat jauh masih ada peluang jika satu langkah lagi aku akan sampai pada tujuan. Begitu juga dengan kamu.
Aku tahu bukan hanya tubuh yang lelah, hati dan pikiranmu pun ikut serta. Ternyata, tumbuh menjadi manusia dewasa itu tidak terlalu sebaik yang ku kira dulu, saat aku masih anak-anak.
Dunia ternyata keras, hidup pun ternyata butuh perjuangan yang hebat. Sekali kita diam, kita terlewatkan dan dilewatkan.
Kamu tidak punya teman berbagi dan berkeluh kesah? Ya sama, aku juga. Kadang saudara, teman, orangtua justru orang-orang yang lebih butuh telinga kita.
Sabarlah, kadang semua memang harus kita lewati dengan kekuatan yang berkali lipat. Kadang masalah, dan rasa lelah harus kita simpan rapat demi senyum bahagia mereka; orang-orang di sekitar kita.
Kuatlah, masih ada Allaah yang bisa kamu jadikan tempat menangis sejadi-jadinya. Manusia tidak perlu tahu sisi lemahmu, mereka cukup tahu saja bahwa kamu kuat dan tak terkalahkan.
Jangan berhenti, boleh jadi sesuatu itu menunggu di depan, sedikit lagi, yaa tinggal sedikit lagi. Nikmati saja segalanya~
Berjuang, sabar dan terus kuat. Semangat!
21/02/2018.
S e m a n g a t !
(via tersenyum-melihat-langit)
#30HariBercerita: Hari 11
AIR
hari ini kukira akan sama seperti hari-hari sebelumnya
melakukan berbagai rutinitas dan berangan-angan tentangmu, ternyata aku salah
aku salah mengira jika hari ini sama
aku salah mengira jika kau memiliki rasa
aku salah karna membiarkan rasa ini ada dan tumbuh
aku juga salah mengira jika kau juga memiliki harap padaku.ternyata semuanya berbeda, kau hanya memberiku pembalasan.
kupikir kau memberi lampu hijau sedangkan kau sebenarnya hanya memberi lampu kuningpermasalahan kita tak pernah menemukan titik temu.
api dilawan dengan api bisa diselesaikan dengan meredam salah satu amarah.
bagaimana jika air dengan air? Ketika kita lihat air, hanya ada cerminan diri kita
sehingga hanya menyalahkan diri sendiri.
Mendengarkan seolah mengerti, membalas seolah memahami
Dengan kebenaran yang tak pernah kau pahami.
Ku mencoba mengatakannya padamu tetapi kau tidak mendengarkan.Ada yang belum selesai di antara kita, sehingga kita masih saling merasa bersalah.
Dan terus lari dari apa yang sebenarnya terjadi, Tanpa saling memahami apa yang kita berdua inginkan.Aku harap kau mengerti, aku mencoba berbicara padamu.
karena media socsal kita tak lagi saling terhubung.TEMANGGUNG, 06 Mei 2019
Ig: vuja_agung
Twitter: @LZED_G
(via surat-pendek)
